Sepenggal episode kelam
August 27, 2008

 

Cerita panjang lagi ^^ *true story* lama gak posting lagi ^^ hehehehe. Saia pengen `jalan-jalan` aja, main-main ke blog teman-teman, ngacak-acak, nyampah-nyampah husst ^^ / becanda. Mau lama gak posting, pengennya baca-baca n ikut komen doank hehehehe. (Besok kalau saia main jangan diusir ya.. hehehehe)

*true story

——————————————————————————

Sepenggal episode kelam

“Mbak, @ # & * $ % ^ ^ ?” seorang bocah lelaki menghentikan motornya tepat di sebelah trotoar tempatku berjalan, mengajak bicara kepadaku.

“Apa ??” aku tak begitu mendengar apa yang diucapkannya, apakah dia mau menanyakan jalan ?

“Boleh di # α @ & * < ™ N ?”

“Apa ?” tanyaku sambil tersenyum, masih belum mendengar.

“Boleh ditemenin ?” agak kesal dia mengulangi ucapannya.

Aku tak tau harus berkata apa.

Sebab aku masih agak alergi dengan yang namanya laki-laki. Setelah belum lama ini (baru dua hari yang lalu) kualami peristiwa agak tragis kehilangan cowok yang benar-benar kucintai. Dimana aku sungguh merasa dikecewakan bahkan kadang sampai membuatku merasa sungguh membenci laki-laki. Bahkan aku telah berniat tidak akan ada lagi lelaki dalam hidupku, aku bercita-cita tidak akan menikah selama hidupku…

“Saya cuma mau ke fotokopian situ kok” jawabku sambil menunjuk tempat fotokopian yang tinggal beberapa meter dari tempatku berdiri.

“Ehm.., ya…

Kuliah dimana ?”

“Angkatan berapa ?”

“Boleh kenalan namanya sapa ?”

demikian sambil jalan dia mengajakku bicara.

“Disa”

“Adi” diulurkan tangannya menjabat tanganku.

“Nomer ?”

dicatatnya nomerku di hpnya.

Beberapa hari kemudian, sms

“Disa, ini Adi yang kenalan di depan fotokopian, kamu lagi dimana ?”

“Aku lagi di rumah dan sedang ingin sendiri” uhm, perkataan yang agak aneh dan gak jelas tapi biarlah, sebab kupikir itulah kalimat yang dapat membuatnya tidak menghubungiku lagi.

Tapi sepertinya perkataan itu justru membuatnya terus meng-sms-ku.

Terus saja dia meng-sms aku.

Sampai akhirnya kukatakan:

“Jadi gini ya Adi, sebenarnya kamu gak perlu kenal sama aku. Coz aku ingin sendiri, bahkan seumur hidup aku ingin sendiri”

“Gak bisa kamu berpikiran sepragmatis itu. Kamu lari dari kenyataan. Seumur hidup tidak hanya akan sendiri, tapi selamanya kamu akan jadi orang yang kalah”

”Emang salah kalo aku sendiri ? Gak ada salahnya kan aku sendiri ? Itu kan juga hak asasi” demikian kubalas sambil agak terkejut membaca sms yang agak sangar kata-katanya itu.

Tak ada balasan… akhirnya ku-sms lagi.

”Sendiri, maksudnya gak akan punya suami. Aku gak akan menikah seumur hidupku”

“Kok sampai ke suami nih ceritanya, kamu pernah dikecewain cowok pasti…” begitu dia menanggapi smsku.

“Iya, aku barusan kehilangan cowok yang benar-benar kucintai” balasku singkat. Padahal akupun menyadari kebodohan-kebodohan, keanehan yang baru saja kulakukan. Hah apa-apaan lagi ini, saling kenal aja belum malah ngomongin suami. Lagipula aku bersikap bodoh dimana aku bersikap seolah-olah dia benar-benar mengharapkan dan menginginkanku. Huh, keanehan, kebodohan bercampur sedikit keangkuhan.

Namun akhirnya kami bertemu, lebih karena rasa penasaran akibat `omongan-omongan tolol` ku lewat sms, mungkin. Dia menungguku di toko buku.

…namun, digenggamnya tanganku..

tapi kulepaskan.

Aku hanya ingin menyampaikan sebaiknya kami berteman saja (justru itulah alasan kuterima ajakan untuk bertemu, ingin menyampaikan lebih baik kami berteman saja)

Namun entah kenapa tak sanggup aku mengatakannya.

Aku sudah ingin melupakannya saja. Namun beberapa hari kemudian aku justru datang ketempatnya. Walau dengan alasan ingin mengatakan: “Aku ingin menjadi temanmu. Kalau kita masih bisa bertemu, ya sudah berarti kita berteman. Tapi kalau kita memang tak bisa lagi bertemu, ya udah biar aku melupakanmu” namun lagi-lagi ternyata tak sanggup aku mengatakannya.

Yang ada, kami malah mengobrol sedikit soal buku, buku-buku Soe Hok Gie `Di Bawah Lentera Merah` dan `Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan` yang ternyata merupakan skripsi / tugas-tugas akhirnya.

Sedikit dipeluk dan diciumnya tubuhku

tapi aku menghindar, menjauh darinya.

Aku cepat-cepat pulang, lagipula dia juga mau ada acara kampus.

”Besok lagi kalau main kesini jangan malu-malu ya” kata-kata yang diucapkannya saat melepas kepulanganku.

Kenapa keadaan jadi makin aneh dan membingungkan seperti ini..

Beberapa hari kemudian aku jalan-jalan ke toko buku, sekalian kubelikan dia buku Soe Hok Gie yang telah lama dia cari `Catatan Seorang Demonstran`, yang memang susah dicari karena ternyata sudah tidak diterbitkan lagi.

Minggu pagi ku sms

”Adi, kamu lagi dimana ? Bukunya kuantar ke tempatmu sekarang aja ya, gimana ?”

”Wah aku lagi di Muntilan. Gimana nih, besok aja gimana”

”Oya udah ga pa pa” jawabku.

Beberapa saat kemudian ku sms lagi

”Eh tapi sekarang aja tak titipin temenmu, biar selesai sekalian urusan aku sama kamu, anggap aja buku itu kenang-kenangan dari aku.”

”Ya udah.. ga pa pa…

Makasih banyak ya…”

”Ok deh, thanks for everything and sorry for everything wrong i`ve ever done” demikian sambil agak menangis kukirimkan sms itu.

Buku itu memang kutujukan sebagai tanda perpisahan dengannya, ingin kuberikan buku itu sebagai kenang-kenangan, tanda perpisahan, sesuatu yang berkesan bagi anak yang suka baca buku-buku `semacam itu`, tapi walaupun demikian, seharusnya bukan begitu cara menyampaikannya. Seharusnya aku bertemu langsung dengan orangnya, bicara langsung, menyampaikan maksud membelikan buku yang telah lama dicarinya itu.

Lagipula, sepertinya memang ada keinginan untuk bertemu.

Akhirnya kuputuskan menunggu sampai malam saat kuperkirakan dia sudah pulang dari Muntilan. Kudatangi tempatnya tapi sepertinya dia belum pulang. Dan benar juga saat kutelepon memang dia masih di Muntilan.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih.

“Masih di Muntilan ya ?”

“Iya nih”

“Oya udah kalo gitu jadi tak titipin temenmu aja”

“Jadi dititipin ?”

Sadar bahwa itu mungkin suaranya yang terakhir yang bisa kudengar, bahwa aku mungkin tak akan bisa, lebih tepatnya tak akan mungkin pantas menghubunginya lagi, setelah apa yang barusan kuperbuat ini, air mata pun mengalir bersama dengan suatu rasa yang sungguh menyesakkan dada. Namun kutahan sebentar, tak ingin aku menangis di depannya.

”Makasih banyak ya..”

”Yoi, sama-sama, nyantai aja” jawabku sok jaim.

”Makasih banyak ya..” untuk terakhir kalinya dia berbicara, sebelum kututup teleponku.

Kutitipkan buku itu pada salah seorang temannya.

Aku pamit pulang. Dari kejauhan, setelah memastikan anak itu sudah masuk kembali ke kamarnya, baru aku menangis.

Malam itu gerimis, semakin deras, cepat-cepat kulangkahkan kaki menuju kendaraan yang kuparkir di halaman.

Gerimis semakin deras, guyuran air hujan dan deru angin menyamarkan air mata dan tangisanku.

Gerimis semakin deras..

biarlah, tak ada orang yang tau..

Untuk terakhir kali, sebelum pergi kutatap bangunan kusam berlantai dua tempat tinggal anak itu.

Kuamati pintu kamarnya yang terletak di pojok paling bawah, menyadari bahwa tiap-tiap harinya di balik pintu itu terbaring sesosok tubuh, meringkuk sendirian, seorang anak yang pernah menyapaku di jalanan,

seorang anak yang ingin berjuang atas nama kebenaran

dan terlebih (bagiku), seorang anak yang berhati lembut, yang matanya terlihat sedih saat kuabaikan.

Selamat tinggal Adi… baek-baek ngekost di jogja ini ya…

Menangis lagi, pulang, sampai rumah lalu menangis lagi.

-the end-

*ber-juta dolar maaf (lebay) buat `yang ngrasa`, tiada suatu maksud apa, hanya ingin sedikit mencurahkan sepenggal episode kelam, sedikit menghapuskan rintihan.. (waktu itu sih) atau mungkin karena alasan demi terapdetnya blog ini ? wkakaka

true story dengan sedikit manipulasi sedikit modifikasi hanya biar lebih elegan, maaf kalau kurang berkenan / maaf kalau mungkin ada bagian-bagian yang salah, A*

Btw, ikut bahagia ada E* yang mendampingimu

Posted in agak sedih |


12 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dyahwp.blogsome.com/2008/08/27/sepenggal-episode-kelam/trackback/

  1. sabar cinta akan datang. walaupun menjauh jodoh sudah digariskan. tak akan ada yang bisa menolak jodoh. kalau jodoh dengan adi pasti anda akan ketemu kelak

    Comment by jadul — August 28, 2008 @ 6:23 am

  2. :ngusap banyu mata sing dlewer ono pipi :

    Comment by regsa — August 28, 2008 @ 7:57 pm

  3. hmm…nmr hp plis,xixixi….yah, begitulah kalo cinta ini hanya kepada makhluk-Nya. cinta sejati datang oleh cinta karena Allah. keep semangat ya..sukses buat kamu.. :)

    Comment by Agung Mojosari — August 29, 2008 @ 12:38 am

  4. bakat tuh tuk nulis novel

    Comment by masciput — August 29, 2008 @ 4:58 pm

  5. lg patah hati nih ? sabar sist, tetep semangat yah!!!! :)

    Comment by Panda — August 30, 2008 @ 1:23 am

  6. Ini franciska dyah yang tinggal di jogja bukan??
    Hmm..

    Comment by morishige — August 31, 2008 @ 8:28 am

  7. @all
    ya ampun….. jadi malu sayah :lol: iya sih tadinya ni cerita mau saia bkin fiktif aja dg `happy ending` tapi baru aja saia mau posting malah tau klo dia udah punya pacar :lol:
    jadilah berjam2 saia di warnet *ga punya laptop™* ngedit nih post biar `sesuai kenyataan` :lol: jadilah saia melacur seperti ini *melakukan curhat* dasar pikiran ngehek.. wkakaka

    Comment by franciska dyah — September 1, 2008 @ 9:32 am

  8. @jadul
    *tidak berani menanggapi komen om jadul takut membuat adi tercederai perasaannya a.k.a illfeel* :lol:

    @regsa
    gak ngasih tisu buat pak regsa, tisunya dah habis saia pake :razz:

    @Agung Mojosari
    *manggut-manggut*
    makasih ya advisenya..
    makasih..

    @masciput
    :mrgreen:

    @Panda
    makasih brur ^^

    @morishige
    iya, jangan bilang2 A* ya brur

    Btw salam kenal…
    thanks dah mampir ya….. :grin:

    Comment by franciska dyah — September 1, 2008 @ 9:39 am

  9. wah! jangan begitu… kan ada lagunya,sist. “tidak semua laki-laki…. bersalah padamu…. ”

    *goyang ngebor sambil minta saweran* :mrgreen:

    Comment by Fendhy — September 2, 2008 @ 12:03 am

  10. fiuhhh…
    bagus. kayak pro buat ceritanya.
    bikin novel ajah…
    :D

    Comment by otakkabel.com — September 2, 2008 @ 8:09 am

  11. wanjreeettttt…..dyah siyalan…
    napa kok saia bisa terharu baca cerita ini ya?????

    *ambil tisu buang ingus*

    Comment by ironepunx — September 4, 2008 @ 8:01 pm

  12. @Fendhy
    lempar Fendhy pake asbak
    :ngakak:

    @the_phenomenon :mrgreen:
    waduh, saia ga bisa bkin novel, mas :mrgreen:

    @ironepunx
    mana minta tisunya. tisu saia dah habis ne
    *ambil tisu dari tasnya mas ironepunx*

    Comment by franciska dyah — September 5, 2008 @ 3:05 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.